Aku memasuki
ruanganku dengan kesal, aku hanya menghela nafas dan kembali duduk di kursiku.
Harus dipindah tempat kerja saat sedang betah dikantor ini memang sangat
mengesalkan, ingin aku bunuh wanita jalang itu. Namun, aku pikir-pikir ini
sepertinya yang terbaik daripada melihat wanita jalang itu lagi. Aku tak ingin
terlalu memikirkan hal itu, kunyalakan kembali komputer kerjaku dan mulai
melanjutkan pekerjaanku untuk hari ini. Hari terakhir aku bekerja dikantor yang
dipimpin wanita jalang. Tak ada yang spesial di hari terakhir ini, ya mungkin
karena aku orang yang sangat cuek.
" Rob,
gua denger lo mau dipindahin dikantor utama ya?" Aku hanya diam menanggapi
omongan Selly.
"Ah lo Rob jawab kek omongan gua, bikin kesel aja lu rob." Aku hanya melihat Selly sekilas tapi dia memalingkan wajahnya. Cantik-cantik tapi kok bego, batin gua dalam hati. Selly langsung pergi dan mulai nemplok lagi ke cowok-cowok lain. "Lacur nih cewek." Kataku dalam hati.
"Ah lo Rob jawab kek omongan gua, bikin kesel aja lu rob." Aku hanya melihat Selly sekilas tapi dia memalingkan wajahnya. Cantik-cantik tapi kok bego, batin gua dalam hati. Selly langsung pergi dan mulai nemplok lagi ke cowok-cowok lain. "Lacur nih cewek." Kataku dalam hati.
Hari sudah
mulai sore, dengan cepat aku kemasi barang-barangku dan langsung cabut dari
kantor ini.
Perjalanan pulang selalu dibayang-bayangi wajah orang-orang baru dikantor, tapi aku ingin ditempat baru akan aku rubah hidupku, pandanganku yang telah ditelan oleh wanita jalang itu.
Perjalanan pulang selalu dibayang-bayangi wajah orang-orang baru dikantor, tapi aku ingin ditempat baru akan aku rubah hidupku, pandanganku yang telah ditelan oleh wanita jalang itu.
Entah kenapa
hari ini aku ingin mampir melihat kantor utama tempatku kerja nanti. Ya
daripada pulang kerumah ujung-ujungnya bosan juga. Aku berhenti tepat didepan
kantor utama, kantor yang besar pasti banyak orang yang tak kukenal juga.
"Maaf
mas, jangan berhenti didepan sini." "Tau nih, kan yang lain pada
susah keluar." Suara dua orang cewek membuyarkan lamunanku. Ku lihat dua
orang cewek berada tepat didepan motorku, aku hanya diam saja. Aku pandangi
mereka berdua, mereka cewek yang cantik. Yang satu mengenakan baju pink dan
satu lagi hitam benar-benar stylish sekali mereka.
"Mas, punya telinga enggak?" Kata cewek berbaju hitam. Sial galak juga dia, padahal dia sangat cantik, ku lihat cewek berbaju pink hanya menunduk entah apa yang dia pikirkan.
"Mas, punya telinga enggak?" Kata cewek berbaju hitam. Sial galak juga dia, padahal dia sangat cantik, ku lihat cewek berbaju pink hanya menunduk entah apa yang dia pikirkan.
Aku hanya
mengangguk saja, dan langsung pergi dari tempat itu. Ah sial sekali batinku
sudah dipindah dan besok harus satu kantor dengan mereka lagi. Namun,
sepertinya aku sedikit tertarik dengan cewek berbaju hitam tadi.
bokutachi wa tatakawanai
ai wo shinjiteru
furiageta sono kobushi
dare mo orosu hi ga kuru yo
nikushimi wa rensa suru
dakara ima tachikirunda
ai wo shinjiteru
furiageta sono kobushi
dare mo orosu hi ga kuru yo
nikushimi wa rensa suru
dakara ima tachikirunda
Aku ambil
hpku dan langsung aku matikan alarmku, beruntung tak ada yang pernah tau aku
seorang WOTA. Ah hari ini hari yang tak ingin aku lalui tapi mau bagaimana lagi,
aku juga harus bayar sewa kontrakan.
Setelah
mandi dan sarapan, dalam keadaan tak siap aku berangkat ketempat kerjaku yang
baru. Aku nyalakan motorku dan langsung aku tancap gas ke tempat kerja yang
baru. Mengesalkan sekali.
Selama
perjalanan aku mencoba memikirkan Oshiku di AKB48 daripada memikirkan orang
orang dikantor baru, sedikit berhasil juga ternyata. Sampai juga aku dikantorku
yang baru, aku pakirkan motorku dan dengan malas masuk kekantor. Aku melihat
banyak sekali orang yang tak kukenal, bodo amatlah aku harus segera ke divisi 8
dan itu berada dilantai 6 gedung ini, sial.
Aku masuk
kedalam lift dan bersandar dipojokan lift, memikirkan nasib emang gak akan
habisnya, rasanya pengen mati saja. Tiba-tiba lift berhenti di Lantai 3, ah ada
orang lagi. Saat pintu lift terbuka aku melihat dua orang cewek kemarin, ah
mereka benar-benar cantik.
" Ah, lo bukannya cowok kemaren ya? Kenapa ada disini." Kata cewek berbaju hitam kemarin dan sekarang dia memakai baju berwarna putih.
"Gua dipindahin kesini." Kataku jutek.
" Ah, lo bukannya cowok kemaren ya? Kenapa ada disini." Kata cewek berbaju hitam kemarin dan sekarang dia memakai baju berwarna putih.
"Gua dipindahin kesini." Kataku jutek.
"Oh,
kamu anak baru? Kamu di divisi mana?" Sekarang gantian cewek berbaju pink
kemarin bertanya.
"Divisi 8." Aku kembali menjawab dengan juteknya, namun cewek ini ternyata sangat imut mengingatkanku akan Oshiku. Tapi ah jangan terlalu memikirkan mereka.
"Divisi 8? Ah sepertinya dia bawahan kita Petra."
"Divisi 8." Aku kembali menjawab dengan juteknya, namun cewek ini ternyata sangat imut mengingatkanku akan Oshiku. Tapi ah jangan terlalu memikirkan mereka.
"Divisi 8? Ah sepertinya dia bawahan kita Petra."
Ah, cewek
berbaju pink kemarin bernama petra, nama yang unik. Tapi mereka bilang aku
bawahan dia? Apa maksudnya ini? Apa mereka atasanku? Siapa mereka? Ah bisa gila
aku.
Lift mulai
berhenti dan pintu mulai terbuka, kita bertiga keluar dari lift dan menuju
ruangan divisi tiga.
"Nah, siapa nama lu anak baru?" Tanya cewek berbaju hitam kemarin.
"Robby." Jawabku flat.
"Kamu sepertinya jarang sekali bicara ya Robby?" Tanya Petra. Ternyata Petra lebih sopan dari temannya.
"Aku gak suka banyak omong."
"Gua gak yakin deh, kayaknya lo lagi ada masalah Rob mangkanya lo males ngomong. Ohya gua Yessy atasan lo di divisi 8 dan Petra sebenarnya assisten gua tapi gua anggap dia wakil gua." Berisik sekali cewek ini batinku.
"Nah, siapa nama lu anak baru?" Tanya cewek berbaju hitam kemarin.
"Robby." Jawabku flat.
"Kamu sepertinya jarang sekali bicara ya Robby?" Tanya Petra. Ternyata Petra lebih sopan dari temannya.
"Aku gak suka banyak omong."
"Gua gak yakin deh, kayaknya lo lagi ada masalah Rob mangkanya lo males ngomong. Ohya gua Yessy atasan lo di divisi 8 dan Petra sebenarnya assisten gua tapi gua anggap dia wakil gua." Berisik sekali cewek ini batinku.
Aku berpikir
aku mulai masuk dalam sebuah genre film yang bercampur nantinya, aku berharap
bergenre harem saja. Kita bertiga memasuki ruangan yang sudah ada bebarapa
karyawan yang sepertinya tak ada beban dimata mereka, santai sekali. Ah, aku
semakin pusing memikirkan tempat ini.
"Yo, bu
ketua sudah datang. Hai Petra, masih minum susu adik kecil." Kata seorang
cowok yang sedang berdiri sambil membawa mobil mainan. Apa-apaan cowok itu.
"Diem lu Son!! Kerja sono jangan maen mulu." Aku kaget saat petra berbicara seperti itu. Ah ini tempat yang gila. Sepertinya aku tak akan menilai orang dengan mudahnya.
"Ohya robby, tempat kamu disebelah Elson dan Febri. Jangan sampai terpengaruh dengan mereka." Kata petra, namun kali ini entah wajahnya terlihat lebih menyegarkan. Antara beruntung dan sial aku berada ditempat ini. Dua bos cantik dan karyawan yang gila semua.
"Robby, lo sudah tau apa yang akan lo kerjakan?"
"Tentu saja, bu yessy." Dan sontak semua mulai tertawa mendengar jawabanku. Aku melihat Yessy seperti ingin marah, ya masa bodo sajalah toh hanya menghormati atasan saja.
"Jangan panggil ibu, dia gak pantes dipanggil seperti itu." Aku hanya tersenyum saja.
"Son, gua gak akan jamin gajian lu sampek ketangan lu!!" Elson langsung diem dan hela nafas aja dan semua kembali normal.
"Eh nama lu siapa?"
"Robby."
"Gua Elson, Yessy cantik ya." Aku hanya mengangguk saja, dan fokus kerja.
"Eh elu, apa lu gak doyan cewek apa?" Berisik sekali Elson ini.
"Berisik ah lu, gua tau kalau Yessy itu cantik emang kenapa sih?" Tanyaku kesal.
"Jadi lu suka ama Yessy?"
"Berisik banget sih lu son. Kerja!!" Bentak Petra yang tiba-tiba saja udah ada dibelakang. Sadis juga nih anak.
"Diem lu Son!! Kerja sono jangan maen mulu." Aku kaget saat petra berbicara seperti itu. Ah ini tempat yang gila. Sepertinya aku tak akan menilai orang dengan mudahnya.
"Ohya robby, tempat kamu disebelah Elson dan Febri. Jangan sampai terpengaruh dengan mereka." Kata petra, namun kali ini entah wajahnya terlihat lebih menyegarkan. Antara beruntung dan sial aku berada ditempat ini. Dua bos cantik dan karyawan yang gila semua.
"Robby, lo sudah tau apa yang akan lo kerjakan?"
"Tentu saja, bu yessy." Dan sontak semua mulai tertawa mendengar jawabanku. Aku melihat Yessy seperti ingin marah, ya masa bodo sajalah toh hanya menghormati atasan saja.
"Jangan panggil ibu, dia gak pantes dipanggil seperti itu." Aku hanya tersenyum saja.
"Son, gua gak akan jamin gajian lu sampek ketangan lu!!" Elson langsung diem dan hela nafas aja dan semua kembali normal.
"Eh nama lu siapa?"
"Robby."
"Gua Elson, Yessy cantik ya." Aku hanya mengangguk saja, dan fokus kerja.
"Eh elu, apa lu gak doyan cewek apa?" Berisik sekali Elson ini.
"Berisik ah lu, gua tau kalau Yessy itu cantik emang kenapa sih?" Tanyaku kesal.
"Jadi lu suka ama Yessy?"
"Berisik banget sih lu son. Kerja!!" Bentak Petra yang tiba-tiba saja udah ada dibelakang. Sadis juga nih anak.
Elson
langsung diam dan melanjutkan pekerjaannya.
"Em rob, keren juga kerjaan lu." Puji Yessy yang tiba-tiba kepalanya ada disampingku. Entah aku benar-benar antara kaget, deg-degan, nyampur jadi satu. Yessy benar-benar cantik jika dilihat dari dekat.
"Makasih." Jawabku singkat, aku masih terlalu gugup.
"Ohya, lain kali panggil gua Yessy aja ya." Aku hanya menganggu saja.
Aku lihat Petra menunduk lagi dan langsung pergi, ah paling dia ada kerjaan. Saat ini pandanganku hanya pada Yessy saja. Sepertinya aku akan cepat melupakan si jalang itu.
"Baiklah, yang nyaman kerja disini Rob." Kata Yessy sambil menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk saja. Sepertinya, aku akan betah kerja disini.
"Em rob, keren juga kerjaan lu." Puji Yessy yang tiba-tiba kepalanya ada disampingku. Entah aku benar-benar antara kaget, deg-degan, nyampur jadi satu. Yessy benar-benar cantik jika dilihat dari dekat.
"Makasih." Jawabku singkat, aku masih terlalu gugup.
"Ohya, lain kali panggil gua Yessy aja ya." Aku hanya menganggu saja.
Aku lihat Petra menunduk lagi dan langsung pergi, ah paling dia ada kerjaan. Saat ini pandanganku hanya pada Yessy saja. Sepertinya aku akan cepat melupakan si jalang itu.
"Baiklah, yang nyaman kerja disini Rob." Kata Yessy sambil menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk saja. Sepertinya, aku akan betah kerja disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar