Senin, 25 Juli 2016

my life

Ini bukan hal penting untuk ditulis, namun entah kenapa rasanya ingin aku bagikan kisah ini. Mungkin untuk mengisi waktu luang saja. Aku tau kisah hidupku tidaklah berarti, dan aku bukanlah orang yang besar. Namun aku berharap orang-orang yang mempunyai pemikiran seperti ku bisa mengambil hikmah dari kisah ini.

Aku lahir dikeluarga nonis, namun aku lahir dikeluarga yang mempunyai toleransi besar. Namun aku tidak akan membahas tentang keluargaku, aku akan membahas ceritaku dari aku kecil. Dari tk aku sudah mengenal apa itu game, mungkin dulu aku baru mengenal gamebot saja. Namun dari Gamebot itu aku mulai mengenal dunia game dan lebih luas lagi. Menginjak umur 7thn atau mulai masuk sd, aku mulai kenal ps 1 dan aku membelinya. Tiada hari tanpa bermain ps. Bisa dibilang sehari aku bisa main ps sampek 6 jam sehari, apalagi kalau hari sabtu lebih dari 6 jam pun bisa.

Masuk ke kelas 4 sd aku dibelikan ps 2, mulai dari situ jam bermain psku mulai bertambah. Namun disisi lain aku masih suka mengoleksi mainan, berbagai mainan. Dan seperti anak umur 10thn lainnya aku masih suka nonton kartun terutama kartun disney. Beranjak smp, tepatnya kelas 6 aku sudah mengenal game di komputer, dan masuk smp aku mulai suka dengan game game online hingga sekarang.

Masuk kelas 3 smp, aku makin sering bermain game online. Karena di smp aku dulu gak punya teman sama sekali aku mulai berpikir untuk mencari teman di dunia game saja. Aku tak pernah peduli dengan nilai nilai ku. Bahkan aku benar benar menjadi anak yang tak peduli sekitar. Aku lebih emosional, lebih egois, dan bisa dibilang aku menjadi anak yang introvert. Dan itu semua membuat nilaiku benar benar hancur, berkali kali aku harus berurusan dengan guru BK karena nilai tryoutku berada di peringkat bawah. Namun aku tak pernah peduli sama sekali. Aku keluar les, dan aku selalu berdiam diri dikamar untuk bermain game dan belajar dance. Selama itu aku hanya punya satu teman saja, yang bisa dibilang sudah aku dan keluargaku anggap sebagai kakakku.

Dan saat UNAS smp aku benar-benar kacau, ngantuk berat, gak ngerti sama sekali. Dan akhirnya aku mendapatkan nilai paling bawah disekolah meski aku lulus. Namun beban berat yang harus aku tanggung adalah, aku harus bisa masuk ke smk negeri. Aku stress karena perbuatanku sendiri namun lagi lagi game membuatku lupa akan stressku. Dan aku bisa masuk ke smk negeri, meski bukan smk favorite namun setidaknya aku bisa bersekolah di negeri, meski dengan cara kotor.

Masuk Smk aku makin menggila, aku mulai mengenal banyak teman, aku mulai mengenal beragam obat-obatan, dan aku mulai mengenal berbagai macam game. Namun saat kelas 10 aku jarang sekali bermain game, karena sibuk keluar dengan temanku. Ya, aku mulai minum-minum, ngepil, namun itu kita lakukan dirumahku. Namun masuk kelas 2 aku kembali menjadi gamers yang gak peduli apapun. Bahkan lebih parah lagi, aku menghabiskan uangku hanya untuk keperluan game. Dipikiranku hanya ada game, bahkan aku rela bolos sekolah demi bermain game.

Kelas 11 benar benar menjadi masa dimana aku benar benar seorang gamers, meski aku punya pacar entah kenapa aku lebih suka bermain game. Naik ke kelas 3 aku mengurangi waktu bermain game, aku mulai masuk les khusus matematika. Saat UNAS mungkin aku benar benar santai, karena aku yakin semuanya lulus, dan benar saja semuanya lulus, namun nilaiku anjlok parah.

Dan sekarang menginjak umur ke 20thn aku masih suka bermain game namun, entah kenapa aku sangat jarang bermain game. Namun terkadang aku menyesal selama ini mengenal game dan membuatku susah menjadi dewasa. Di umur hampir 20thn, aku masih berpikir seperti anak kecil, Masih emosional, egois, susah menyelesaikan masalah sendiri. Bahkan aku gak pernah bisa paham situasi. Terkadang aku menyesal namun terkadang masa bodo akan hal itu. Dan aku membuat kisah ini pun aku sendiri bingung dengan diriku sendiri, aku harus apa? Berhenti bermain game? Aku rasa itu susah.

Namun aku berpikir makin lama aku bermain game aku akan menjadi apa nanti? Namun di otakku selalu penuh dengan menjadi gamers pro. Namun aku tau aku akan sangat ditentang untuk hal itu apalagi keluargaku lagi dimasa susah. Tapi aku tak bisa lepas dari game. Ini benar-benar membuatku bingung. Aku ingin banyak hal namun aku susah untuk meninggalkan hal yang telah menemaniku sejak kecil.

Sabtu, 25 Juni 2016

projek 2

Keluarga adalah hal terindah dalam hidup mengalahkan semuanya yang kau capai.

Ku pegang ganggang pintu, ku hela nafas, ingin rasanya aku tak pulang kerumah tapi aku rindu suasana rumah. Kubuka pintu rumah, dan sudah kuduga, seorang pria yang baru saja menjadi anggota keluargaku berdiri didepanku dengan tatapan kesal.

"Kenapa wajahmu itu Sehun? Dan ini sudah jam berapa?" Ocehnya, ku hanya diam dan menunduk saja.
"Kau ini, lihatlah eommamu mengawatirkanmu." Lanjutnya.
"Bisahkah kau diam dan biarkan aku kekamar?"Kataku, yang  disambut gelengan kepala pria itu.

Aku berjalan menuju kamarku, dan kulihat adikku yang paling kecil sedang menonton tv, hmm dia bergadang lagi. Keluargaku awalnya hanya aku dan eommaku, aku tak pernah tau siapa appa kandungku, lalu eommaku mengadopsi empat anak perempuan dari panti asuhan yang tak terurus karena kasihan dengan mereka. Aku menerima dengan baik mereka berempat meski terkadang aku dan mereka sering bertengkar. Meski begitu akulah anak yang paling dekat dengan eomma, namun itu berubah saat eomma menikah lagi dengan pria itu.

Aku masuk kekamar, ku kunci pintu kamarku dan langsung ku baringkan tubuhku ke kasur. Sakit sekali tubuhku, memar diwajah karena berantem, kaki yang terkilir karena jatuh juga, sial sekali hari ini. Ku pejamkan mataku, dan berdoa esok aku bisa melihat wajah eommaku disampingku.

Keesokan harinya--

Kurasakan kepalaku dielus oleh seseorang, dan ini benar-benar membuatku nyaman sekali. Serasa sudah lama tak merasakan hal ini.

"Sehun, ayo bangun." Kudengar suara yang sangat lembut membangunkanku. Kubuka mataku dan kulihat seorang wanita yang sangat kusayang disampingku. Ingin rasanya aku meneteskan air mata namun, aku laki laki dan sudah besar.

"Eomma." Kupeluk eomma dengan penuh kasih sayang dan dia membalasnya.
"Kau kemana saja Sehun? Kita semua khawatir nak." Kata eomma, sambil mengelus punggungku.
"Mianhae eomma, aku hanya ingin sendiri." Jawabku lirih.
"Harusnya kau jangan begitu, kalau ada masalah cerita nak, ada eomma, eunbi, eunha, yerin dan umji juga, jangan seperti ini eomma khawatir. Apalagi kau pulang dengan wajah babak belur seperti itu."
"Ne Eomma." Jawabku lirih, dan entah kenapa air mataku menetes. Ku eratkan pelukanku.

Kita terdiam untuk beberapa saat dan aku tau kalau eommaku pasti sedang menangis. Ini adalah hal yang sangat menyakitkan bagiku, membuat eomma menangis.
"Huft, sudahlah ayo kita makan." Kata eomma sambil melepaskan pelukan kami. Aku hanya mengangguk saja. Kita keluar kamar dan menuju ke ruang makan. Kulihat sudah ada masakan kesukaanku dimeja makan dan tentunya keempat adikku sudah duluan makan.

"Oppa, kajja kita makan." Kata Umji sambil tersenyum kepadaku. Aku hanya mengangguk dan duduk didepannya.
"Ini oppa, kuberikan khusus buatmu yang sukses membuat kita khawatir." Eunbi memberikanku sepiring makanan.
"Gomawo." Jawabku, sambil mengambil piringnya.

"Haaah, Sehun appa ingin tanya, kemana saja kau?" Aku diam saja. Aku tak berani menjawab pertanyaan ini karena aku tau aku akan diusir atau membuat eommaku sedih dengan kelakuanku.

--

Ku belai rambutnya, matanya yang indah, wajahnya yang cantik sungguh membuatku terpanah. Kulumat bibir kecilnya yang manis, ku kulum lembut bibirnya. Dia mulai membalasnya dan memeluk leherku. Kita berpanggutan cukup lama. Ku lepas panggutan kita, kucium pipinya lalu turun ku cium lehernya. Ku buat tanda merah di leher yeoja yang kusayang.

"Shhh sehun." Desahnya, saat ku kissmark lehernya serta tanganku meremas pdnya yang menggoda.
"Waeyo nuna?" Ku tatap dia dengan penuh kasih sayang,
"Aniya chagiya." Jawabnya.

Kulanjutkan memainkan pdnya, kuremas, ku elus-elus pdnya. Ku lihat yeojachingu ku memejamkan matanya sambil sesekali mendesah. Ku mainkan nipplenya yang sebelah kiri sambil ku kulum nipple sebelah kanannya. Kurasakan jrku dielus oleh tangan mungilnya, uuuh nikmat sekali rasanya.

Rabu, 11 Mei 2016

Cinta Datang untuk Diperjuangkan

Hai guys. Gua Sergio LD panggil aja Sergio. Gua bingung mau ngapain sebenernya, gua bingung mau gimana lagi. Sesuai di Judul Post ini gua akan membahas sebuah hal yang bisa bikin baper.

Gua punya seorang cewek yang gua kenal dari dunia Roleplayer, Fake World. Mungkin sebagian anak K-pop tau apa itu Roleplayer. Gua kenal Roleplayer dari 3 tahun yang lalu, lumayan lama sih. Tapi gua gak mau bahas itu.
Apa kalian pernah merasa harus memperjuangkan cinta? Terutama cinta di dalam Roleplayer dimana itu menjadi cinta yang tabu. Merasa sayang memang bisa cepat di dunia Roleplayer tapi merasa cinta, mungkin kalian akan ditertawakan.

Gua punya seorang couple di Roleplayer maupun kehidupan nyata gua, dia couple Roleplayer sekaligus kehidupan nyata gua. Gua sayang dia, sayang banget. Bagaimana bisa sayang? Sayang itu bisa langsung datang. Gua nyaman banget sama dia, udah merasa dia benar-benar anak yang seru, asik, gokil. Mungkin ini gua terlalu baper, gua ajak dia pacaran real. Tau? Ya pacaran di kehidupan nyata gua. Kita berjauhan, tapi kemungkinan ketemu masih besar, karena memang banyak alasan gua buat satu kota dengan dia. Tapi alasan itu untuk orang tua, alasan utama? Karena gua ingin bisa jagain dia secara langsung.

Dari sayang menjadi cinta. Ya itu bisa saja, tapi bagaimana dengan anak Roleplayer, yang kehidupan aslinya saja tak tau? Ya itu sulit kemungkinan dia sebenarnya transgender atau punya pacar dikehidupan aslinya sangat besar. Tapi beda sama gua kali ini, perasaan cinta yang langsung muncul buat gua gila. Gua bingung apa gua harus mundur atau maju? Tapi semakin buat mundur dorongan dari belakang sangat besar.

Dan sebuah perkataan dari temen-temen gua, yang selalu dukung gua, mantepin gua bikin gua berpikir. Ini harus diperjuangin, udah sampai begini mau gimana lagi. Gua udah terima apa adanya, meski dia suruh gua buat jangan terlalu berharap, meski dia bilang belum bisa cinta sama gua, meski dia nanti akan sedikit menghindar, meski dia menganggap gua terlalau baper, tapi perasaan tulus dari hati gua, perasaan cinta yang murni dan serius ini gak bisa digagalin hanya dengan itu. Gua udah cinta dia, tulus dengan dia. Gua buat postingan ini gak berharap dia baca, gua hanya menyampaikan apa yang gak bisa gua sampaikan.

Buat Gideon dan Taemphi, Kalian Sahabat The best gua. Makasih buat lu berdua.

Minggu, 01 Mei 2016

projek 1

Aku memasuki ruanganku dengan kesal, aku hanya menghela nafas dan kembali duduk di kursiku. Harus dipindah tempat kerja saat sedang betah dikantor ini memang sangat mengesalkan, ingin aku bunuh wanita jalang itu. Namun, aku pikir-pikir ini sepertinya yang terbaik daripada melihat wanita jalang itu lagi. Aku tak ingin terlalu memikirkan hal itu, kunyalakan kembali komputer kerjaku dan mulai melanjutkan pekerjaanku untuk hari ini. Hari terakhir aku bekerja dikantor yang dipimpin wanita jalang. Tak ada yang spesial di hari terakhir ini, ya mungkin karena aku orang yang sangat cuek.

" Rob, gua denger lo mau dipindahin dikantor utama ya?" Aku hanya diam menanggapi omongan Selly.
"Ah lo Rob jawab kek omongan gua, bikin kesel aja lu rob." Aku hanya melihat Selly sekilas tapi dia memalingkan wajahnya. Cantik-cantik tapi kok bego, batin gua dalam hati. Selly langsung pergi dan mulai nemplok lagi ke cowok-cowok lain. "Lacur nih cewek." Kataku dalam hati.

Hari sudah mulai sore, dengan cepat aku kemasi barang-barangku dan langsung cabut dari kantor ini.
Perjalanan pulang selalu dibayang-bayangi wajah orang-orang baru dikantor, tapi aku ingin ditempat baru akan aku rubah hidupku, pandanganku yang telah ditelan oleh wanita jalang itu.

Entah kenapa hari ini aku ingin mampir melihat kantor utama tempatku kerja nanti. Ya daripada pulang kerumah ujung-ujungnya bosan juga. Aku berhenti tepat didepan kantor utama, kantor yang besar pasti banyak orang yang tak kukenal juga.

"Maaf mas, jangan berhenti didepan sini." "Tau nih, kan yang lain pada susah keluar." Suara dua orang cewek membuyarkan lamunanku. Ku lihat dua orang cewek berada tepat didepan motorku, aku hanya diam saja. Aku pandangi mereka berdua, mereka cewek yang cantik. Yang satu mengenakan baju pink dan satu lagi hitam benar-benar stylish sekali mereka.
"Mas, punya telinga enggak?" Kata cewek berbaju hitam. Sial galak juga dia, padahal dia sangat cantik, ku lihat cewek berbaju pink hanya menunduk entah apa yang dia pikirkan.

Aku hanya mengangguk saja, dan langsung pergi dari tempat itu. Ah sial sekali batinku sudah dipindah dan besok harus satu kantor dengan mereka lagi. Namun, sepertinya aku sedikit tertarik dengan cewek berbaju hitam tadi.

bokutachi wa tatakawanai
ai wo shinjiteru
furiageta sono kobushi
dare mo orosu hi ga kuru yo

nikushimi wa rensa suru
dakara ima tachikirunda

Aku ambil hpku dan langsung aku matikan alarmku, beruntung tak ada yang pernah tau aku seorang WOTA. Ah hari ini hari yang tak ingin aku lalui tapi mau bagaimana lagi, aku juga harus bayar sewa kontrakan.

Setelah mandi dan sarapan, dalam keadaan tak siap aku berangkat ketempat kerjaku yang baru. Aku nyalakan motorku dan langsung aku tancap gas ke tempat kerja yang baru. Mengesalkan sekali.

Selama perjalanan aku mencoba memikirkan Oshiku di AKB48 daripada memikirkan orang orang dikantor baru, sedikit berhasil juga ternyata. Sampai juga aku dikantorku yang baru, aku pakirkan motorku dan dengan malas masuk kekantor. Aku melihat banyak sekali orang yang tak kukenal, bodo amatlah aku harus segera ke divisi 8 dan itu berada dilantai 6 gedung ini, sial.

Aku masuk kedalam lift dan bersandar dipojokan lift, memikirkan nasib emang gak akan habisnya, rasanya pengen mati saja. Tiba-tiba lift berhenti di Lantai 3, ah ada orang lagi. Saat pintu lift terbuka aku melihat dua orang cewek kemarin, ah mereka benar-benar cantik.
" Ah, lo bukannya cowok kemaren ya? Kenapa ada disini." Kata cewek berbaju hitam kemarin dan sekarang dia memakai baju berwarna putih.
"Gua dipindahin kesini." Kataku jutek.

"Oh, kamu anak baru? Kamu di divisi mana?" Sekarang gantian cewek berbaju pink kemarin bertanya.
"Divisi 8." Aku kembali menjawab dengan juteknya, namun cewek ini ternyata sangat imut mengingatkanku akan Oshiku. Tapi ah jangan terlalu memikirkan mereka.
"Divisi 8? Ah sepertinya dia bawahan kita Petra."

Ah, cewek berbaju pink kemarin bernama petra, nama yang unik. Tapi mereka bilang aku bawahan dia? Apa maksudnya ini? Apa mereka atasanku? Siapa mereka? Ah bisa gila aku.

Lift mulai berhenti dan pintu mulai terbuka, kita bertiga keluar dari lift dan menuju ruangan divisi tiga.
"Nah, siapa nama lu anak baru?" Tanya cewek berbaju hitam kemarin.
"Robby." Jawabku flat.
"Kamu sepertinya jarang sekali bicara ya Robby?"  Tanya Petra. Ternyata Petra lebih sopan dari temannya.
"Aku gak suka banyak omong."
"Gua gak yakin deh, kayaknya lo lagi ada masalah Rob mangkanya lo males ngomong. Ohya gua Yessy atasan lo di divisi 8 dan Petra sebenarnya assisten gua tapi gua anggap dia wakil gua." Berisik sekali cewek ini batinku.

Aku berpikir aku mulai masuk dalam sebuah genre film yang bercampur nantinya, aku berharap bergenre harem saja. Kita bertiga memasuki ruangan yang sudah ada bebarapa karyawan yang sepertinya tak ada beban dimata mereka, santai sekali. Ah, aku semakin pusing memikirkan tempat ini.

"Yo, bu ketua sudah datang. Hai Petra, masih minum susu adik kecil." Kata seorang cowok yang sedang berdiri sambil membawa mobil mainan. Apa-apaan cowok itu.
"Diem lu Son!! Kerja sono jangan maen mulu." Aku kaget saat petra berbicara seperti itu. Ah ini tempat yang gila. Sepertinya aku tak akan menilai orang dengan mudahnya.

"Ohya robby, tempat kamu disebelah Elson dan Febri. Jangan sampai terpengaruh dengan mereka." Kata petra, namun kali ini entah wajahnya terlihat lebih menyegarkan. Antara beruntung dan sial aku berada ditempat ini. Dua bos cantik dan karyawan yang gila semua.
"Robby, lo sudah tau apa yang akan lo kerjakan?"
"Tentu saja, bu yessy." Dan sontak semua mulai tertawa mendengar jawabanku. Aku melihat Yessy seperti ingin marah, ya masa bodo sajalah toh hanya menghormati atasan saja.
"Jangan panggil ibu, dia gak pantes dipanggil seperti itu." Aku hanya tersenyum saja.
"Son, gua gak akan jamin gajian lu sampek ketangan lu!!" Elson langsung diem dan hela nafas aja dan semua kembali normal.

"Eh nama lu siapa?"
"Robby."
"Gua Elson, Yessy cantik ya." Aku hanya mengangguk saja, dan fokus kerja.
"Eh elu, apa lu gak doyan cewek apa?" Berisik sekali Elson ini.
"Berisik ah lu, gua tau kalau Yessy itu cantik emang kenapa sih?" Tanyaku kesal.
"Jadi lu suka ama Yessy?"
"Berisik banget sih lu son. Kerja!!" Bentak Petra yang tiba-tiba saja udah ada dibelakang. Sadis juga nih anak.


Elson langsung diam dan melanjutkan pekerjaannya.
"Em rob, keren juga kerjaan lu." Puji Yessy yang tiba-tiba kepalanya ada disampingku. Entah aku benar-benar antara kaget, deg-degan, nyampur jadi satu. Yessy benar-benar cantik jika dilihat dari dekat.
"Makasih." Jawabku singkat, aku masih terlalu gugup.
"Ohya, lain kali panggil gua Yessy aja ya." Aku hanya menganggu saja.

Aku lihat Petra menunduk lagi dan langsung pergi, ah paling dia ada kerjaan. Saat ini pandanganku hanya pada Yessy saja. Sepertinya aku akan cepat melupakan si jalang itu.
"Baiklah, yang nyaman kerja disini Rob." Kata Yessy sambil menepuk pundakku. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk saja. Sepertinya, aku akan betah kerja disini.